Rumah Tukang Review
Your place for quality entertainment reviews



Book

October 27, 2011

The Hunger Games

More articles by »
Written by: Si Tukang Review
Tags: , , ,

The Hunger Games Cover

The Hunger Games is amazing!” Stephenie Meyer

As close to a perfect adventure novel as I’ve ever read” Rick Riordan

Constant suspense. I coudn’t stop reading” Stephen King

Ketika sebuah novel mendapatkan pujian-pujian seperti ini dari para novelis tenar, karuan saja rasa penasaran saya turut terpantik. Apa sih sebenarnya The Hunger Games ini? Kenapa begitu banyak novelis-novelis memujinya setinggi langit? Saya tidak langsung percaya begitu saja dengan pujian para novelis tentunya. Bukan rahasia kan kalau para novelis saling berbalas pujian supaya menaikkan oplah penjualan novel mereka? Lagipula premise dalam The Hunger Games juga tidak sepenuhnya orisinil: reality show di mana 24 anak dikumpulkan dalam satu arena lalu harus saling bunuh? Tidakkah itu mengingatkan kalian pada novel / film / manga Jepang berjudul Battle Royale?

Tapi akhirnya rasa penasaran saya yang menang, apalagi mendengar Malese Jow (artis yang berperan sebagai Anna dalam serial The Vampire Diaries) dan Chloe Grace-Moretz (Hit Girl dalam Kick-Ass) konon mau terlibat audisi untuk menjadi Katnis Everdeen, seorang gadis berusia 16 tahun dan terlibat dalam permainan reality show maut: The Hunger Games. Secara mengejutkan saya menjumpai diriku membalik satu halaman demi satu halaman terus menerus hingga saya melahapnya sampai habis dalam dua hari saja!

Jadi apa itu sebenarnya The Hunger Games? Seperti yang saya tulis di atas tadi, The Hunger Games adalah sebuah permainan maut yang diselenggarakan oleh The Capitol untuk tetap berkuasa di Panem. Nah nah, kalian mungkin tambah bingung lagi. Apa itu Panem? Apa itu Capitol? Mari saya mundur dalam sinopsis ini menjelaskan latar belakang dalam dunia The Hunger Games.

Di masa depan perang demi perang menghancurkan negara yang pernah dikenal sebagai Amerika Serikat. Dari reruntuhannya tumbuhlah sebuah negara baru bernama Panem. Panem ini terdiri dari satu pemerintahan pusat bernama Capitol dan 13 distrik yang mengelilinginya. Karena para distrik merasa pembagian pemerintahan dan sumber daya tidak adil mereka pun memberontak melawan Capitol. Apa daya pemberontakan berhasil dipadamkan dan salah satu distrik – distrik 13 – menjadi korban hingga diluluh-lantakkan.

Api pemberontakan pun padam tetapi Capitol tidak berdiam diri begitu saja. Mereka tidak ingin ada pemberontakan-pemberontakan baru muncul kembali dan meredamnya dengan cara melakukan The Hunger Games. Setiap tahun akan ada sepasang anak berusia 12 – 18 tahun (cowo dan cewe) yang dipilih melalui undian untuk mewakili distrik mereka bertarung dalam reality show maut itu. Tidak ada peraturan sama sekali kecuali satu. 24 anak itu semua bakalan diterjunkan ke satu arena luas yang dipilih acak (bisa pantai, hutan, pegunungan) dan harus bertarung sampai tinggal satu yang bertahan hidup.

Katniss adalah seorang gadis dari Distrik 12. Sehari-harinya ia bekerja (diam-diam) sebagai pemburu di hutan sekeliling Distrik 12 guna memenuhi perut adik kecilnya Primrose dan ibunya. Ketika nama Prim terpilih mengikuti Hunger Games, Katniss jelas tidak terima. Ia mengajukan diri untuk menggantikan Prim. Dan dari sana pertarungan Katniss untuk bertahan hidup dimulai.

Kenapa ya saya menyukai The Hunger Games? Padahal pertamanya saya sempat pesimis dengan karakter utamanya. Seorang gadis sebagai lakon utama kisah bisa berhasil kalau memang premisenya cinta-cintaan (Bella dalam The Twilight Saga anyone?) tapi kalau petualangan? Lihat Harry Potter atau Percy Jackson. Saya tidak mengingkari kalau ada karakter gadis yang kuat dalam kedua novel tersebut seperti Hermione ataupun Annabeth tetapi fokus utama kisah pasti pada sosok pria. Tapi ternyata pilihan Suzanne Collins di sini cukup tepat; karena Katniss bukan seorang gadis biasa.

Katniss dalam novel ini adalah seorang gadis yang keras. Seumur hidupnya ia selalu merasa sendiri dan hampir tidak pernah merasakan tuntutan untuk bersosialisasi dengan orang lain kecuali keluarganya dan rekan pemburunya. Ini membuat Katniss menjadi sosok gadis tangguh dan masuk akal bisa bertahan hidup dalam ajang The Hunger Games tetapi cukup rapuh – sebuah kelemahan yang lebih menggaet atensi pembaca tetap bersimpati kepadanya. Saya ingin mengacungkan jempol kepada sang pengarang yang tidak menjadikan Katniss seorang Mary Sue. Bahkan ada kalanya saya mendungu-dungukan Katniss yang tidak bisa melihat ‘kebaikan’ orang kepadanya. Tapi kalau saya memposisikan diri sebagai Katniss, rasanya bisa dimengerti. Hidup yang ia tempuh berbeda dengan yang saya alami sehingga wajar kalau ia lebih melihat gelasnya sebagai setengah kosong.

Ironisnya juga justru pada momen-momen di mana Katniss menunjukkan rasa sayangnya yang sesungguhnya itulah yang menjadi momen-momen terbaik dalam The Hunger Games. Perhatian dan sayang Katniss yang tulus kepada adiknya Prim sekaligus (SPOILER ALERT) kematian Rue di tangan Katniss adalah yang paling menggetarkan hati saya. Bahkan kalau adegan ini berhasil diterjemahkan sempurna dalam film sangat mungkin saya menitikkan air mata haru pada adegan-adegan tersebut. Highlight dalam kisah ini: hubungan dari Peeta dan Katniss malahan kok kurang sukses menohok hatiku (walau saya akui saya penasaran bagaimana Collins bakalan membawa hubungan keduanya dalam Catching Fire dan Mockingjay nantinya).

Kalau dipikir-pikir sekarang, konsep gladiator anak-anak seperti ini kok tidak masuk akal di jaman sekarang. Tidak masuk rasanya dengan batas moral jaman ini. Tapi pemikiran yang sama melintas di benak saya ketika menonton The Truman Show beberapa tahun silam. “Masa sih ada orang mau disyuting hidupnya begitu secara diam-diam secara riil?“. Flashforward ke jaman sekarang dan lihat berapa banyak selebriti malah menawarkan diri agar kehidupan mereka direkam. Sindiran kesenjangan sosial antara distrik dan Capitol pun rasanya mencerminkan keadaan sistem ekonomi (Capitol = Capitalism?) Amerika saat ini.

So my verdict is… terlepas dari sindiran sosial, unsur masuk akal atau tidak, tak bisa dipungkiri kalau The Hunger Games merupakan permainan hidup mati yang mengasyikkan dibaca dari awal (setup dan pengenalan Capitol) sampai akhir (klimaks dalam survival show). Penasaran kini meluap dalam diri saya. Catching Fire dan Mockingjay semestinya menawarkan gaya penceritaan yang sangat berbeda dari The Hunger Games, bisakah Suzanne Collins menulis kisah yang sama menghipnotisnya?

Score: 8.5

Novel Details
Writer: Suzanne Collins
Publisher: Scholastic
Total Page: 374



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.




 
 

 
THG

Katniss Set the Box Office On Fire (Box Office 22 – 24 November 2013)

01. The Hunger Games: Catching Fire, $158.074.286, $158.074.286 02. Thor: The Dark World, $14.196.302, $167.917.123 03. The Best Man Holiday, $12.490.920, $50.360.510 04. Delivery Man, $7.944.977, $7.944.977 05. Free Birds, $5....
by Si Tukang Review
0

 
 
Madagascar 3 Crop

The Box Office is Move It Move It! (Box Office 08 – 10 Juni 2012)

01. Madagascar 3: Europe’s Most Wanted, $60.316.738, $60.316.738 02. Prometheus, $51.050.101, $51.050.101 03. Snow White and the Huntsman, $23.058.790, $98.537.445 04. MIB 3, $13.895.720, $135.901.094 05. The Avengers, $1...
by Si Tukang Review
0

 
 
Cabin

The Hunger Games On Top (Box Office 13 – 15 April 2012)

01. The Hunger Games, $21.500.000, $337.070.000 02. The Three Stooges, $17.100.000, $17.100.000 03. The Cabin in the Woods, $14.850.000, $14.850.000 04. Titanic 3D, $11.625.000, $44.419.000 05. American Reunion, $10.700.000, $3...
by Si Tukang Review
5

 

 
THG Crop

Audience Hungers for The Hunger Games (Box Office 23 – 25 March 2012)

01. The Hunger Games, $155.000.000, $155.000.000 02. 21 Jump Street, $21.300.000, $71.051.000 03. Dr Seuss The Lorax, $13.100.000, $177.300.000 04. John Carter, $5.014.000, $62.347.000 05. Act of Valor, $2.062.000, $65.942.000 ...
by Si Tukang Review
3

 
 
 

Catching Fire

(Review ini lebih cocok dibaca mereka yang sudah membaca dua buku pertama The Hunger Games Trilogy sebab akan mengandung SPOILER di mana saya akan menyinggung plot-plot dalam novelnya) Membaca sinopsi dari Catching Fire membuat...
by Si Tukang Review
5

 



2 Comments


  1. Wah, keren! Jadi pengen beli novelnya dan nonton pilemnya ;D


  2. anne

    “I am not pretty. I am not beautiful. I am as radiant as the sun”..^^..
    Aah Katniss!! Saya jd sukaa..

    Saya nonton dulu baru baca,sempet bingung juga,tapi ud ngerti kok sekarang.Mau lanjut ke buku 2..\?/
    Btw,Peeta di buku lebih charming drpd di film yah?di film ngga banget mnurutku,lebih suka Gale deh..:P



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>