Review

Dari mana saya mulai mereview manga ini ya? Pertama kali mendengar karya dari Hiromo Arakawa ini malahan dari serial animenya yang ditayangkan pada tahun 2003 dulu. Saat itu kendati animenya cukup terkenal saya malah tak menontonnya sampai selesai karena merasa ceritanya membosankan dan membingungkan. Sejak saat itu saya belum pernah berkesempatan (baca: tidak tertarik) untuk membaca manganya. Ketika iseng melihat bahwa manga Fullmetal Alchemist rupanya telah selesai dan tamat pada tahun 2010 lalu saya memberanikan diri untuk membaca lagi semua kisahnya – sekali ini tanpa terputus.

Apakah ada yang namanya jatuh cinta pada bacaan kali kedua?

The Land of Amestris

Manga ini dibuka dengan petualangan dari Elric bersaudara dalam mencari sebuah batu jimat sakti bernama Philosopher’s Stone. Kedua bersaudara ini: Edward dan Alphonse bukanlah orang biasa melainkan penguasa ilmu Alchemist. Begitu hebatnya mereka dua bersaudara ini diberi ijin oleh pemerintah untuk berkelana. Edward sang kakak bahkan mendapatkan sertifikasi resmi sebagai seorang Alchemist dari negara. Akan tetapi sebagai Alchemist pun mereka bukan Alchemist yang normal saja.

Dalam hukum Alchemist orang harus memberikan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Ketika ibu dari Elric bersaudara meninggal kedua anak ini dikuasai oleh kesedihan yang mendalam dan berusaha menghidupkan ibu mereka kembali dengan ilmu terlarang Alchemist. Ilmu terlarang itu justru berbalik senjata makan tuan. Kaki dari Edward hancur. Alphonse? Lebih parah lagi, seluruh badannya bahkan hancur. Beruntung sebelum seluruh keberadaan Alphonse hilang Edward masih sanggup menggunakan kemampuannya yang tersisa untuk mengikat jiwa Alphonse ke dalam sebuah jubah besi bekas.

The Amazing Alchemists!

Pada awalnya Fullmetal Alchemist terasa seperti sebuah manga shonen petualangan yang tak ada bedanya dengan One Piece atau Naruto. Akan tetapi memasuki chapter kesepuluh dan selanjutnya Arakawa mulai menyibak misteri mengenai tanah Amestris beserta ilmu Alchemy itu sendiri. Karakter yang akan dijumpai pembaca pun mulai berkembang tak hanya para Alchemist rekan dari Edward dan Alphonse tetapi juga teman yang mereka jumpai dari petualangan mereka, masa lalu mereka, bahkan sampai musuh beraneka ragam dari negeri yang berseberangan sampai monster yang disebut dengan Homonculus.

A Blend of Action, Comedy, and Mystery

Apa yang membuatku jatuh cinta pada bacaan kali kedua adalah bagaimana sang mangaka memberikan keseimbangan yang baik pada komik ini. Saya ingat pada saat menonton anime Fullmetal Alchemist (yang rupanya tak seutuhnya mengikuti kisah manganya karena dibuat saat manganya masih berjalan) saya merasakan bahwa anime ini sangat dark, kelewat dark malahan sehingga saya risih mengikutinya. Tak hanya itu karakter Edward dan Alphonse begitu lemah sehingga rasanya seperti protagonis kacangan yang terkesampingkan dalam petualangan mereka sendiri.

What it means to be an Alchemist!

Saya begitu terkejut ketika membaca manga ini dan semua masalah-masalah itu lenyap. Apakah kisah dalam Fullmetal Alchemist ini masih dark? Jawabannya adalah ya. Hiromu Arakawa adalah mangaka yang tak takut menghabisi karakter-karakter penting di dalam ceritanya apabila ia percaya itu memang diperlukan untuk memajukan ceritanya. Kualitas yang sama seperti yang ada pada novelis George R.R. Martin inilah yang membuat Fullmetal Alchemist begitu menggemaskan sekaligus menggaet perhatian pembaca untuk terus membaca chapter demi chapter. Toh Arakawa pun tahu benar caranya memasukkan unsur humor di dalam cerita sehingga mood tak pernah terseret sampai begitu kelam. Yang apik adalah Arakawa tahu kapan ia harus menggambarkan sebuah adegan secara serius dan kapan ia harus mulai memasukkan humor tanpa membuat kedua unsur itu saling bertabrakan.

Dua masalah lain yang sempat menjadi ganjalan saat menonton serial animenya pun hilang di sini. Edward dan Alphonse adalah dua Alchemist cerdas yang memang menggunakan kemampuan dan otak mereka secara maksimal. Ketika ada saatnya mereka dikalahkan oleh musuh itu tak terasa karena mereka inkompeten melainkan karena sang musuh memang kuat. Begitu juga dengan deretan karakter protagonis lainnya seperti Roy Mustang dan Liza Hawkeye. Semua karakter protagonis di sini punya kelebihan masing-masing – tak seperti di animenya di mana para jagoan terasa menang untung-untungan ketika menghadapi sosok antagonis.

Selain koreografi pertempuran yang kreatif dan tone cerita yang pas apa yang menjadi nilai plus utama dari manga ini tentu saja jalan ceritanya yang digarap dengan sangat rapi. Berbeda dengan kebanyakan manga yang kentara dipanjang-panjangkan ketika sudah tenar Hiromu Arakawa mendesign kisah dalam manga ini dengan memiliki awal – tengah – akhir cerita yang pasti. Apabila ada sedikit tambahan di sana-sini itu justru dia gunakan untuk memperkaya cerita dan dunia yang ada sekaligus menggali lebih dalam karakter dalam kisahnya. Hasilnya adalah sebuah cerita yang tak pernah mengkhianati kontinuitas dan menjanjikan untuk dibaca berulang kali – sekedar untuk mencari remah-remah petunjuk apa saja yang sebenarnya sudah Arakawa tebarkan di chapter-chapter awal yang baru nantinya ia gunakan di beberapa chapter kemudian.

The Amazing Cast of Charaters

Apabila jalan cerita dari Fullmetal Alchemist yang berat (untuk ukuran manga shonen) diikuti maka daya tarik kedua dari manga ini adalah deretan karakternya. Hiromu Arakawa adalah seorang manga yang tahu benar caranya membagi spotlight kepada karakter-karakter di manga ini. Salah satu kelemahan terbesar dari kebanyakan manga shonen adalah memperkenalkan terlalu terlalu banyak karakter kadang di chapter yang sudah lanjut sehingga pembaca tak lagi peduli pada mereka karena tak memiliki keterikatan dengan karakter baru tersebut. Terkadang malahan pembaca jadi mengomel karena karakter lama yang sudah mereka sukai jadi tergusur dan berkurang eksposisinya karena kalah bersaing. Dari segi bisnis tentu ini sah-sah saja. Lihat saja bagaimana manga Naruto dan One Piece mendulang uang tak hanya dari manga maupun anime tetapi juga dari merchandise yang sukses dijual?

Fullmetal Alchemist Manga Cover

Akan tetapi itulah Arakawa tak melakukan hal itu untuk Fullmetal Alchemist. 70 – 80% karakter penting pada cerita sudah diperkenalkan kepada pembaca di sepertiga awal cerita (kurang lebih 30 – 35 Chapter). Sementara tentunya tetap ada beberapa karakter baru yang diperkenalkan tetapi pembaca sudah familiar dengan hampir semua karakter yang ada. Seusai meletakkan semua bidaknya di papan permainan barulah Arakawa membangun karakter dan menggerakkan bidak-bidaknya dalam papan cerita secara keseluruhan. Hasilnya tentulah sebuah masterpiece. Mungkin kata-kata saya di atas tadi kurang tepat. Fullmetal Alchemist adalah sebuah paket komplit yang menarikku. Hanya cerita yang menarik saja tidak ada gunanya bila kita tak peduli dengan karakter yang terlibat dalam cerita tersebut.

So my verdict is… Fullmetal Alchemist adalah bagaimana sebuah manga harus ditulis. Dengan awal – tengah – akhir yang jelas dan sebuah cerita yang secara cerdas dan brilian mampu menggabungkan berbagai elemen dalam satu cerita. Untuk sebuah masterpiece tentunya sebuah nilai sempurna layak kuberikan.

Score: 10

Note: Ada dua serial animasi Fullmetal Alchemist. Yang pertama adalah versi pertama yang dirilis pada tahun 2003. Animasi ini hanya mengikuti sedikit (mungkin seperempat) dari jalan cerita manganya sebelum kemudian membuat jalan cerita sendiri. Anggap saja sebagai fanfic yang resmi.

Di sisi lain setelah serial manganya hampir tamat serial animasi kedua (karena begitu populernya manga ini) digarap lagi dengan judul Fullmetal Alchemist: Brotherhood. Apabila hendak menonton animenya maka pastikan menonton versi Brotherhood karena mengikuti jalan cerita pada manganya seratus persen.



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.