Review

Cover sebuah buku terkadang bisa sangat menipu. Contohnya ya Waktu Aku Sama Mika yang ditulis oleh Indi ini. Covernya benar-benar sangat menarik, seakan sebuah kisah yang sangat heartwarming persahabatan dan cinta antara dua anak manusia yang sama-sama saling membutuhkan dari lubuk hati mereka. Yang satu namanya Mika dan yang satu lagi namanya Indi. Tapi ternyata? Ya Tuhan, buku novel ini mungkin ekuivalen dengan Ghost Rider: Spirit of Vengeance… alias mematikan indera perasaanku!

Waktu Aku Sama Mika Cover

Siapakah Indi? Di adalah seorang gadis berpenyakit scoliosis. Dia bilang kalau dia sangat – sangat kesepian dan termasuk orang yang pendiam sebelum kenal dengan Mika. Setelah membaca buku ini sih saya merasa bukan dia yang pendiam tapi tepatnya orang-orang yang dekat dengan dia kabur ketakutan sama tingkah posesifnya. Oke, lantas siapa itu Mika? Dia adalah pacar Indi yang kena penyakit AIDS. Selain itu apa lagi yang kita tahu tentang Mika? Ternyata dia sudah meninggal dunia dan Indi masih sangat menyayangi dia dan menganggap Mika sebagai pahlawannya.

Hei… ini seperti kisah Surat Kecil Untuk Tuhan atau One Litre of Tears kan?

Tidak.

Kenapa?

Pertama: penulisan buku ini benar-benar buruk. Memang katanya ini adalah kumpulan surat-surat curhat dari Indi… tetapi tetap saja semuanya terlalu membingungkan untuk diikuti. Di satu cerita Mika masih hidup kemudian melompat ke bab berikutnya Mika sudah mati dan dibicarakan dalam wujud mimpi / bayangan. Penulisan dari Indi sendiri begitu lebai dengan berkali-kali mengetikkan betapa ia begitu mencintai Mika. Kedua: berbagai tulisannya begitu tidak masuk akal logika sampai saya terbahak-bahak membacanya. Mau contoh?

Contoh 1:

Mika…
Aku mau ngomong sama kamu.

Kamu tahu engga, dulu aku mau dicium sama kamu
tapi di bibir

Dulu aku mau minta sama kamu…
Tapi sebelum aku minta, kamu bilang AIDS bisa menular dari darah…

Kamu suka gigit-gigit bibir sih…
Jadi tiap hari bibir kamu berdarah…
Kamu engga mau tulari aku kan?

Mika, kalau Tuhan kasih kita kesempatan kedua, kamu mau kan berhenti gigit-gigit bibir??

Soalnya aku mau… sekali dicium di bibir sama kamu.

Kamu mau cium aku kan Mika?

MUUUAH.

Aku: Dafuq? Kenapa ini orang curhat sama orang mati? Mengerikan banget?

Contoh 2:

Mika…
Gerry bilang kamu di surga ditemenin bidadari-bidadari cantik ya?

Mika…
Bisa tidak kamu bilang sama Tuhan supaya bidadari-bidadarinya dibuat mirip aku saja?

Soalnya Mika…
Aku cemburu.

Aku: Dafuq? Kenapa ini malah minta bidadari surga diubah? Mau sok romantis jadi lebai malahan.

Contoh 3:

Ibuku bilang kamu anak nakal Mika
“Anak baik tidak kena HIV” itu katanya…

Aku jadi anak baik Mika…
Tidak nakal…
Agar aku bisa bertemu kamu lagi…
Di surga…

Tapi bagaimana kalau kamu tidak ada di surga?
Aku tidak mau sendirian di sana Mika…

Apa aku harus jadi anak nakal Mika?

Aku binggung… Kamu ada di mana Mika?
Bisa kamu beri tahu aku?

Agar aku tahu…
Harus menjadi anak baik…
atau nakal?

???????????????????????? –> Bener. Dia pakai tanda tanya begitu banyak.

Aku: Kasian juga ni si ibu. Pas kecil ga dikasi makan bener nih makanya ga cuma scoliosis tapi juga kelainan otak anaknya.

Serius deh. Kalian bakalan mikir kenapa saya sampai segitunya. Toh suka-suka orang menulis diary. Ya. Silahkan kalau menulis diary untuk konsumsi pribadi. Mau dia gantung diri biar cepat-cepat ketemu Mika di surga juga saya sebodo amat. Tapi kalau mau menjual sebuah buku. Setidaknya tolong pikirkan juga pembaca. Sampai seluruh buku isinya hanya ratapan dan angan-angan (kepada orang yang sudah meninggal dunia pula!). Aneh dan sakit. Seharusnya kalau saya jadi orang tuanya saya tidak akan menerbitkan buku ini tetapi justru membawa anaknya pergi ke psikolog supaya kelainan mentalnya bisa cepat-cepat diperbaiki.

Kalian yang mengharapkan kenal siapa itu karakter Mika selain pujaan hati Indi boleh siap gigit jari. Buku ini tidak pernah mengulas masa lalu Mika, bagaimana mereka bisa jadian, konflik Mika dengan orang tua Indi, dan apapun. Segalanya seperti berantakan terturah di dalam sebuah buku tanpa kronologi atau kesinambungan yang jelas. Pembaca tidak kenal siapa Mika jadi kenapa mereka harus merasakan apapun tentangnya?

So my verdict is… Waktu Saya Dengan Buku ini cuma bisa dideskripsikan dengan satu kata: horror. Bahkan lebainya Bella mengidamkan Edward saja kalah jauh dibandingkan buku ini. Un-fucking-believable.

Score: 0.0



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.