Review

Usia adalah hal yang krusial bagi wanita. Berbeda dengan pria yang walau sudah menginjak kepala empat saja bisa menyunting gadis yang jauh lebih muda darinya, wanita biasanya sudah dianggap tidak laku dan layu bila belum jua mendapatkan pendamping saat memasuki kepala tiga. Saya tidak bilang ini hal yang pasti terjadi pada semua wanita mengingat di jaman modern ini sepertinya trend wanita menikah dan punya anak di usia 30 ke atas makin banyak (dan jangan lupa dengan grup para tante girang). Toh kalau bicara pada umumnya, sulit disangkal usia 30 adalah saat di mana golden age wanita mulai berlalu…

Dengan judul 30+ ditambah tajuk Single On Sale membuatku penasaran akan rom-com terbaru dari Thailand yang masuk ke theater Blitz ini. Ia mengisahkan cerita romansa dari gadis bernama Ing yang stress karena ketika pacarnya yang LDR dengannya selama tujuh tahun pulang, sang pacar malahan menyerahkan undangan pernikahan… dengan wanita lain! Bukan main hancurnya hati Ing dan ini membuat dia secara spontan berkencan dengan banyak sekali pria untuk mencari yang cocok dengannya. Spontanitas ini ditimbulkan karena ramalan seorang peramal ganteng Jeud. Pencarian mati-matian Ing ini mulai membuahkan hasil ketika ia bertemu dengan seorang fotografer tampan dan ‘sempurna’ bernama Tan. Apakah hubungan dari Ing dan Tan bisa berjalan dengan baik?

30+: Single On Sale Poster

Kenapa sih judul film ini 30+: Single On Sale? Rasanya misleading dan membuat para penonton jadi salah kaprah deh. Memang sih film ini bertema komedi romantis dan semua klise yang kita harapkan ada di dalamnya. Ada gadis yang berlari sana-sini demi mendapatkan pria idamannya melakukan berbagai ketololan. Ada para sidekick yang muncul sekedar untuk menghadirkan tawa bagi para penonton. Tapi mana esensi yang saya sebutkan di atas? Usia hampir-hampir tidak berpengaruh dalam cerita. Alasan kenapa Ing mati-matian mencari pacar pun kelihatannya absurd (bergantung pada peramal). Saya tahu kalau masyarakat Thailand super mistis dan sangat percaya hal seperti ini, tetapi kalau yang meramal saja kelihatannya kurang meyakinkan maka… apa ya bisa dipercaya? Kenyataannya adalah dengan judul yang sebenarnya bisa menjanjikan sebuah kisah romansa berbeda dan dewasa, sutradara Puttipong Promsaka Na Sakolnakorn (Oh Dewata… namanya panjang amir…) menyia-nyiakannya dengan sebuah kisah klise; mulai dari awal, pertengahan, hingga akhir yang mudah sekali tertebak. Kenapa Puttipong? Kenapa… padahal debutmu sudah begitu bagus dengan Crazy Little Thing Called Love?

Para aktor – artis di film ini tidak ada yang menonjol dan bermain sesuai perannya. Emosi yang mengalir dari mereka tidak terasa natural dan terpilihnya mereka sepertinya karena memang wajah-wajah rupawan (dan untuk kasus tertentu: muka bodoh) untuk menarik para kawula muda menonton saja. Yah setidaknya sebagai cowo (yang diseret teman wanitaku menonton film ini) saya masih bisa terhibur memandangi wajah dari Chermarn Boonyasak yang lumayan manis. Asal tahu saja kalau Boonyasak sendiri bakalan menginjak kepala tiga bulan Mei tahun ini… walaupun dengan paras secantik dia mustahil deh kalau belum punya pendamping.

So my verdict is… 30+ Single On Sale sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi rom-com yang smart dan sensitif dengan masalah yang banyak dihadapi oleh wanita single yang menginjak usia 30 tahun. Sorotan sosial dan keluarga, rasa minder karena masih single, pacaran yang berbeda dengan usia 20an karena sudah harus memikirkan pernikahan dan begitu banyak aspek menarik yang bisa digali jadi mubazir karena sang sutradara sekaligus penulis skenario main jalan amannya saja. Jadi? Lewatkan saja kalau bukan penggemar genre semacam ini!

Score: C-



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.