Review

Saya sangat kecewa ketika mendengar Argo tidak lulus dari LSF Indonesia. Gara-gara kejadian ini saya terpaksa harus menunggu sampai hampir setengah tahun (Argo dirilis di Amerika pada bulan Oktober 2012) untuk menontonnya. Ekspektasi saya bergerak dari arah tinggi menjadi tinggi sekali seiring dengan bagaimana Argo menyapu penghargaan demi penghargaan yang ada mulai dari Golden Globe, PGA, SAG, sampai baru-baru ini DGA. Sungguhkah Argo film yang sesuperior itu dibandingkan kompatriot-kompatriotnya?

Argo sendiri sebenarnya adalah film yang berdasarkan kisah nyata mengenai sebuah film palsu. Nah lo, unik sekali kan konsepnya? Mari saya jelaskan lebih lanjut. Di tahun 1979 dulu Iran bergejolak. Negara Islam ini dikuasai oleh para militan garis keras yang mendukung naiknya Ayattolah Khomeini sebagai pemimpin Iran yang baru. Dikarenakan Amerika melindungi sang Shah pemimpin Iran yang lama jelas saja rakyat Iran murka dengan negara Paman Sam tersebut. Rombongan anarkis menerjang masuk Kedubes Amerika di negara Iran dan menguasai tempat tersebut. Insiden ini nantinya dikenal sebagai “Krisis Sandera di Iran“.

Argo Poster

Akan tetapi dari semua warga negara Amerika yang bekerja di tempat itu tak semuanya tertangkap. Enam warga Amerika mampu melarikan diri dan berlindung di rumah Dubes Kanada yang bertempat tinggal di Iran. Akan tetapi itu bukan berarti mereka sudah aman. Malahan bisa dibilang mereka lebih tidak aman dibandingkan kompatriot mereka yang tertangkap. Para sandera yang ada di Kedubes tidak akan dibunuh begitu saja sebab mata dunia (berikut semua reportase berita) tengah mengarah ke sana. Menghabisi sandera secara biadab akan membuat dunia murka dan bersatu menghancurkan Iran. Beda halnya dengan enam warga Amerika yang di luar. Anggota garis keras militer Iran bisa dengan mudah menemukan, menyiksa, dan lalu menghabisi mereka tanpa ada larangan apapun.

Di saat inilah CIA turun tangan untuk menyelamatkan nyawa keenam orang tersebut. Mereka menugaskan salah satu agen terbaik mereka: Tony Mendez untuk berangkat ke sana dan menyelamatkan keenamnya. Samaran mereka adalah kru film untuk sebuah film palsu yang takkan pernah dibuat: Argo. Akan sukseskah Mendez menyelamatkan keenam orang ini? Mereka berpacu dengan waktu sebab cepat atau lambat para militer Iran akan menyadari bahwa ada enam orang hilang di tengah sandera-sandera yang ada…

In Foreign Land

Saya benar-benar suka dengan Argo. Peduli amat dengan cerita yang konon tak seratus persen sama dengan kejadian aslinya. Eh, siapa peduli? Didramatisasi sedikit tapi yang penting jadi seru! Film ini langsung tancap gas dari awal dan hampir tak pernah melambatkan tempo. Waktu dua jam durasi tayang film ini berlalu secepat kilat karena Affleck tak pernah memasukkan satupun adegan sia-sia di film ini. Setiap adegan film ini efektif menggambarkan kegalauan dari para sandera, ekskalasi ketegangan antara dua negara Amerika-Iran, serta berpacu dengan waktunya Mendez membawa keenam warga negara Amerika kabur dari terkaman para savages itu. Argo adalah satu dari sedikit film yang membuat saya bangkit dan bertepuk tangan usai menyaksikan finalenya yang begitu epik.

Ben Affleck tak hanya piawai menjadi sutradara di film ini tetapi juga tampil total sebagai aktor utama. Affleck memerankan Mendez dengan pas. Ia tak pernah tampil macam jagoan super Jason Bourne yang memberi penonton rasa aman bahwa “Ah muncul masalah apapun juga pasti bisa ditanganinya“. Akan tetapi Affleck juga tidak lantas membuat diri Mendez sebagai sosok inkompeten yang goblok. Penampilannya pas sebagai seorang yang sangat mampu – yang terbaik mungkin – yang bisa menjalankan misi ini, tetapi tetap khawatir kalau-kalau hal buruk terjadi kepada mereka.

Untuk aktor pendukungnya Cranston, Arkin, dan Goodman semua tampil keren sesuai kapasitas mereka. Saya pribadi sebenarnya lebih suka dengan penampilan Bryan Cranston di film ini dibandingkan Alan Arkin mungkin dikarenakan karakternya punya andil lebih besar di cerita. Akan tetapi semua komponen ini juga aktor-artis yang memerankan enam orang warga negara Amerika tampil total dengan peranan mereka masing-masing membuat penonton turut bersimpati dengan nasib mereka. Tak heran SAG menghadiahkan ensembel akting terbaik untuk mereka mengingat memang tak satupun selain Affleck yang terlalu menonjol.

How can we save them?

Salah satu alasan lain bagiku menyukai film ini mungkin adalah karena saya pernah mengalami nasib yang sama dengan mereka. Saya adalah golongan minoritas Cina di negara Indonesia dan di tahun 1998 dulu saya mengalami apa yang banyak kalian mungkin tidak pernah rasakan. Dikejar. Ketakutan. Mendengar semua pukulan atau senter di pintu depan dan berlari ke belakang rumah siap untuk lari dan kabur. Semua ketakutan dan paranoia itu dituangkan oleh Affleck dengan sempurna di layar lebar. Setelah terkesan dengan The Town (saya belum menonton Gone Baby Gone) saya benar-benar jatuh cinta kali ini dengan karya Affleck. Semoga saja sutradara muda ini terus mempertahankan kualitas film-filmnya ke depannya.

So my verdict is… Argo adalah salah satu film terbaik yang kutonton tahun ini. Di luar sedikit klise di penghujung film saya tak menemukan cacat cela dalamnya. Tak setuju dengan pendapat saya? Tak apa kok, seperti yang diutarakan karakter Lester Siegel dalam film ini: “Fuck yourself!

Score: A



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.