Review

Semedi.

Komat-kamit.
Dansa ala taichi.
Menggerak-gerakkan air, bumi, api, dan udara.

Oke… I’m officially addicted to Avatar.

Dan bagaimana tidak? Ini adalah salah satu kalau bukan malahan animasi terbaik yang pernah saya tonton. Saya menonton ‘buku’ pertamanya yang sudah diadaptasi dalam bentuk film dan merasa bahwa season pertamanya itu jauh lebih superior dalam bentuk animasi dibanding adaptasinya di layar lebar. Season kedua melanjutkan petualangan Aang dan kawan-kawan, kali ini menuju ke Earth Kingdom supaya sang Avatar in training itu bisa belajar Earthbending.

Semula Aang hendak mempelajari kemampuan Earthbending itu dari sohib lamanya Bumi tetapi sayang kerajaan Omashu telah jatuh di bawah kekuasaan Fire Nation. Beruntung harapan tidak berakhir di sana, atas petunjuk Bumi Aang mendapatkan seorang guru baru dalam wujud gadis buta tetapi keras kepala bernama Toph. Kepribadian Toph sesuai dengan kekuatan batu yang ia kuasai “keras kepala” dan “ceplas-ceplos“. Tetapi ia adalah salah seorang earthbender terbaik yang menganalisa keadaan sekeliling melalui telapak kakinya.

Karakter mayor baru yang muncul dalam season dua bukan hanya Toph tapi juga Azula. Salah satu kekurangan utama dalam season pertama Avatar adalah kurang musuh besar yang benar-benar garang. Zuko adalah musuh yang ‘menarik’ tetapi jelas bahwa kepribadiannya yang conflicted membuat penonton setengah bersimpati selain jengkel kepadanya. Azula sang adik adalah seorang fire prodigy yang haus kuasa dan musuh yang sepadan bagi Aang dan rekan-rekannya. Ia cerdas, licik, dan kuat. Ada satu adegan di mana Aang dan semua rekannya mengepung Azula dan ia masih berhasil meloloskan diri sembari melukai seorang dari pengejarnya.

Toph, Favorite Character

Tambahan dua karakter ini membuat dinamika dalam Avatar kian berkembang dan hidup. Masuknya Toph dalam grup Aang misalnya memberi chemistry baru dalam grup tersebut. Ia suka mengusili Sokka dan banter antar keduanya kadang menjadi sumber humor di season ini. Selain itu ia pun suka clash pendapat dengan Katara soal Aang di mana Katara lebih memanjakan Aang dan Toph lebih tegas pada sang murid. Begitu pula di pihak lain persaingan antara Azula dan Zuko dalam mengejar Aang terasa lebih tinggi nilai emosionalnya (they’re brothers and sisters afterall!) dibanding rivalitas Zuko dan Zhao.

Tapi poin terkuat dalam season kedua ini bagiku ada pada intrik dalam kota Ba Sing Se. Paruh pertamanya keren tetapi paruh keduanya luar biasa. Ba Sing Se yang adalah ibukota Earth Nation merupakan setting letak cerita paruh akhir season kedua. Berbeda dengan Northern Water Tribe yang cuma dimunculkan dalam (kalau tidak salah) tiga episode terakhir, kita diberi cukup waktu untuk tahu benar kota Ba Sing Se, struktur sosial dan intrik politik di belakang dinding-dinding pembagi kota itu.

So my verdict is… Book Two: Earth menyempurnakan sebuah season yang sudah nyaris sempurna. Ayo tonton serial animasinya ini, dan kita bengkokkan elemen bersama-sama! *mulai berdansa-dansa taichi lagi*



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.