Review

Sebelum Christopher Nolan dikenal sebagai sutradara dalam Batman Begins, The Dark Knight dan Inception, ia lebih pertama dikenal sebagai sutradara jenius yang menggarap film Memento. Memang sih pertama dia membuat film Following (saya belum menontonnya) yang membuat dia mendapat perhatian kritikus tetapi Memento-lah film Nolan yang selain sukses besar di mata para kritikus juga bisa dibilang sukses secara komersial. Selama ini saya mengenal Nolan lewat karya-karyanya setelah Memento… Insomnia, Batman Begins, The Prestige, The Dark Knight, dan Inception semua sudah saya tonton. Jadi kemarin saya iseng-iseng menonton Memento.

Oke, saya hendak mengawali review saya dengan mengatakan bahwa film ini masuk dalam deretan lima besar film terbaik yang pernah kutonton. This is just one of the movie that you owe to watch. Jadi kalau kamu belum menonton film ini, berhenti baca artikel ini dan pergi pinjam dan nonton. I repeat: you owe it to yourself to watch this movie.

Memento Poster

Masih membaca? Oh well, you’ve been warned…

(SPOILER ALERT)

Saya hanya ingin menceritakan sedikit premise mengenai film ini karena mengulasnya lebih lanjut sangat berpotensi menjadi spoiler. Film ini adalah kisah mengenai Leonard Shelby yang merupakan seorang penderita short-term memory. Karena sebuah insiden, otaknya tidak bisa menampung memori baru walaupun bisa tetap mempertahankan memori yang lama (kondisi yang cukup mirip dengan apa yang dialami karakter Drew Barrymore dalam 50 First Dates). Di awal film, Leonard menembak seorang pria. BANG! Apa yang terjadi? Christopher Nolan pun memutar waktu dan mengajak kita menontonnya.

B & W

Film ini dituturkan dalam dua narasi yang berbeda. Yang pertama terjadi di masa kini dan berjalan mundur sementara yang kedua dari masa lalu dan bergerak maju. Kedua jalan cerita ini nantinya bertemu di akhir film dan membentuk satu narasi yang utuh. Ini bagi saya merupakan bukti dari kejeniusan Nolan. Walaupun timeline cerita melompat dari present dan past dan kembali lagi ke present sebagai penonton saya tidak pernah merasa kebingungan mengikuti logika maupun arah cerita. Bila dibandingkan dengan Inception sekalipun saya masih menganggap Memento sebagai film yang lebih superior – dikarenakan satu kalipun tidak saya merasa bingung akannya.

Karena saat menggarap film ini Nolan belum seberapa populer, bisa dimengerti bahwa deretan cast di film ini tidak sengetop film-film sang maestro berikutnya. Toh walau begitu penampilan mereka tidak kalah dengan ensembel film Nolan berikutnya. Guy Pearce sebagai sebagai Leonard mantap membawakan perannya. Sekali lagi saya tak ingin mengungkapkan siapa saja pemain lain di film ini untuk tidak menganggu twist dalam cerita. Yang pasti percayalah mereka semua bekerja sama membuat karya ini sempurna.

Lihat nih foto!

Kemudian soal twist endingnya. Saya tahu bahwa film ini bakalan memiliki twist ending (yang sebenarnya sudah merupakan spoiler) sehingga selama film berputar saya terus mencari clue-clue yang membuat saya bisa menebak akan twistnya. Tapi saya agaknya terlalu meremehkan Nolan. Saat lima menit terakhir di mana semuanya dikuak saya hanya bisa bengong. Semua tebakan saya salah dan saya tidak bisa tidak dipaksa bertepuk tangan mengakui kejeniusan Nolan bersaudara (kisah Memento Christopher Nolan berdasar ide yang ditayangkan dalam cerpen Memento Mori karya adiknya Jonathan Nolan).

So my verdict is… ada satu kekurangan yang saya sadari begitu kelar menonton film ini. Sebuah pertanyaan yang muncul dikarenakan insepsi dari rekan blog saya Labirin Film (Tiko) yang mengatakan “Bagaimana mungkin seorang yang memiliki short-term memory bisa tahu ia memiliki short-term memory?“. Saya tidak tahu jawabannya tapi banyak jurnal ilmiah menyatakan Memento sebagai film yang paling realistis merepresentasikan pasien penderita short-term memory. Lepas dari kekurangan minor itu yang bisa saya katakan hanya: Bravo… bravo… You always mindfuck me Nolan… And I love it.



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.