Review

PSP belum mati. Terserah semua orang mau bilang ini handheld tidak laku atau kalah bersaing dengan DS serta iPhone atau apalah. Pada kenyataannya game-game kelas atas masih terus dirilis untuk handheld satu ini. Baru saja saya menyelesaikan Metal Gear Solid: Peace Walker dan Persona 3 Portable lalu mendadak saja PSP sudah dihujani dengan game-game kelas atas macam Valkyria Chronicles 2 dan God of War: Ghost of Sparta. Semuanya dalam kurun waktu tidak sampai setengah tahun!

Nah, bicara soal God of War: Ghost of Sparta tentunya membuat gamer keheranan. Bukankah PS3 sudah merilis God of War 3 yang konon menjadi pamungkas dalam trilogi God of War? Dan bukankah sudah ada God of War: Chain of Olympus yang adalah prekuel God of War pertama di PSP. Masih perlu lagikah gamer memainkan petualangan lain Kratos? Ready At Dawn selaku developer game ini menjawab dengan lantang: “Masih“. Dan Ghost of Sparta pun dirilis.

The Journey To Save A Brother

Game ini mengambil setting sesudah God of War pertama tapi sebelum God of War 2. Di sini Kratos telah mengalahkan Ares dan mengambil alih titel dewa perang. Anehnya walau mimpi buruknya mengenai anak dan istri telah berlalu ia malahan mengalami visi-visi lain. Kali ini visi tersebut berkaitan dengan masa lalunya, terutama dengan saudara laki-lakinya bernama Deimos. Saat kecil Kratos dan Deimos selalu berlatih bersama dan Kratos bersumpah untuk melindungi adiknya.

God of War: Ghost of Sparta PSP Cover

Apa daya janji Kratos tinggallah janji. Sebuah prophecy ramalan masa depan menyatakan bahwa dari suku Sparta akan lahir seorang bocah yang membawa kehancuran bagi kubu dewa. Tidak menghendaki hal ini terjadi, Ares menyerang kota Kratos dan mengambil Deimos. Kratos muda tidak berdaya menghentikan hal ini. Kini setelah kematian Ares, Kratos yang menyangka Deimos telah tewas menyadari bahwa sang adik masih hidup. Kratos pun kembali menyandang senjatanya dan berkelana demi mencari tahu keberadaan sang adik dan menyelamatkannya.

Sebagaimana game God of War sebelumnya, petualangan Kratos membawanya ke berbagai lokasi familiar penggila mitologi Yunani seperti kota tenggelam Atlantis, kerajaan Sparta, sampai ke realm kematian yang anehnya bukan dikuasai oleh Hades melainkan oleh Thanatos, seorang dewa uzur yang telah ada bahkan sebelum jamannya Zeus sekalipun.

Because A Sparta Must Never Let His Back Hit the Ground!

Amuk Kratos dalam game ini diperkaya dengan berbagai macam senjata. Sebagai senjata utama kamu memiliki senjata khas Kratos: Blades of Athena. Selain itu kamu juga memiliki Arms of Sparta yang terdiri dari set tombak dan tameng (persis yang dipakai oleh Raja Leonidas dan prajuritnya dalam 300). Kamu juga memiliki berbagai elemen magis yang bisa kamu pakai di sini. Setiap kali kamu membunuh musuh, membuka peti merah, atau melewati halangan tertentu, game akan menghadiahimu dengan Red Orb yang berfungsi untuk mengupgrade senjata-senjatamu dan membeli hadiah pada mode Temple of Zeus setelah menyelesaikan game.

Hack and slash!

Gameplay lainnya tidak banyak berubah. Kalau kamu seorang veteran God of War, tidak bisa dipungkiri kamu akan merasa “Hei, bukankah saya sudah pernah melakukan ini seperti… errr… empat kali sebelumnya?“. Musuh-musuh mitologi yang kamu hadapi pun rata-rata sama dengan apa yang bakalan kamu harapkan. Medusa? Ada. Minotaur? Kembali muncul. Cyclops? Jelas. Para tentara tengkorak yang muncul hanya buat dicacah? Tentu. Singkat kata apa yang membedakan Ghost of Sparta dengan God of War sebelumnya hanya para bos-bosnya saja yang walau jumlahnya sedikit tapi masing-masing pertarungannya sangat memorable. Battle terakhirnya bahkan jauh lebih luar biasa dibandingkan pertarungan akhir Chain of Olympus – dan saya berani bilang berbeda dengan semua God of War yang pernah kamu mainkan sebelumnya.

Lantas ceritanya? Ceritanya justru menjadi titik lemah dalam Ghost of Sparta. Banyak yang bilang ini adalah game yang berusaha menghumanisasikan Kratos – dan ada banyak adegan menyentuh hati dalam game ini. Ah, saya tidak merasa begitu. Bahkan setelah kenyataan dengan Deimos terungkap (yang saya anggap semestinya momen paling mengharukan game ini) pun perasaan saya rasanya datar-datar saja. Malahan ada kesan game ini terkesan terlalu cepat alias kedodoran pacing di saat pengakhiran.

God of War Handheld Trilogy?

Bicara soal kualitas grafis Ghost of Sparta, game ini memang tidak ada duanya. PSP sudah lama dikenal sebagai rumah game handheld yang kualitasnya mendekati hingga menyamai PS2 dan Chain of Olympus membuktikan itu. Ghost of Sparta bahkan mendorong handheld PSP lebih lagi dari itu. Petualangan Kratos kali ini lebih panjang satu hingga dua jam dibandingkan Chain of Olympus dan sang dewa perang juga memiliki lebih banyak varian musuh. Akan tetapi yang membuatku paling terpana adalah setting dunia mitologinya. Hanya dua kata untuk melukiskannya: luar biasa.

Spider Kratos?

Ready At Dawn sendiri menyadari hal itu dan menggunakan angle kamera untuk menyombongkan kualitas grafis game ini. Sering kali kamera game bergerak dinamis mendekat dan menjauh. Saat pertarungan intense terjadi – terutama saat QTE (Quick Time Event) – maka kamera akan dizoom untuk melihat serunya pertarungan dan tajamnya detail karakter-karakter di game ini. Lantas saat Kratos sedang menjelajah sering kamera ditarik untuk wide shot, memperlihatkan atmosfir beragam yang ditawarkan game ini pada kita. Ghost of Sparta adalah salah satu game dengan visual terbaik di PSP dan mengingat handheld ini sudah berada pada akhir life cyclenya, kelihatannya seperti God of War 2 menjadi swan song bagi PS2, Ghost of Sparta bisa jadi swan song untuk PSP.

Ataukah Ready At Dawn masih mempersiapkan kejutan lain lagi untuk gamer PSP? Ingat kalau Chain of Olympus adalah prekuel God of War sementara Ghost of Sparta adalah interquel antara God of War dan God of War 2, mungkinkah petualangan Kratos ada lagi menjembatani God of War 2 dan God of War 3?

So my verdict is… Ghost of Sparta mungkin tidak menawarkan apapun yang baru bagi penggemar game hack and slash semacam ini, tetapi formula lama yang diusung Ready At Dawn dieksekusi secara sempurna sehingga sangat saya rekomendasikan bagi semua pemilik PSP.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Tidak ada yang baru di sini tetapi pertarungan melawan boss di God of War tetap membuat saya terperangah.

Graphic / Sound: 10
Bisakah kalian menyebutkan tiga saja titel PSP yang grafisnya bisa melebihi Ghost of Sparta? Tidak bisa? Bagus. Saya juga tidak.

Play Time: 7.5
Dengan waktu main skenario utama sekitar tujuh jam, game ini sedikit lebih panjang dibandingkan Chain of Olympus. Lagipula ada banyak mini game (Challenge) hal tambahan yang dimasukkan Ready At Dawn untuk me’maksa’mu memainkan game ini lagi setelah tamat.



About the Author

Si Tukang Review
Seseorang yang menggemari film, video game, graphic novel, manga, serial TV, dan segala bentuk entertainment (yang dia anggap) berkualitas. Berdomisili di Manila (untuk sekarang) tapi lebih sering hidup di dalam dunia yang diciptakan di otaknya sendiri.